[Review] Trave(love)ing - Roy Saputra, dkk.

Setelah cukup sukses *halah* me-review beberapa judul buku di postingan yang kemarin-kemarin, maka kali ini dengan bangga gue akan coba review sebuah buku yang sangat fenomenal, bahkan lebih fenomenal dibandingkan dengan Nikita Mirzani, seorang (yang mengaku) artis walaupun tanpa karya itu. Pffft!

Buku yang beruntung kali ini berjudul Trave(love)ing oleh Roy Saputra, de-ka-ka. Eniwei, ini adalah novel pertama yang gue beli di Tahun 2012. Iya, karena jujur, buku-buku yang gue baca sebelum ini, hampir semuanya adalah hasil menang kuis dan minjem sama teman. Serius! *pengakuan terlarang*
Buku ini gue beli langsung di Gramedia Palembang Square, seminggu yang lalu pas lagi hang out bareng teman kuliah (ceileee hang out).

Oke, gak perlu berbasa-basi terlalu jauh, gak perlu mengusik hubungan Franda dan Bisma Sm*sh, gue mulai aja ngebahas isi bukunya. Yuk capcuuuss, cyin~

Judul: Trave(love)ing
Penulis: Roy Saputra, dkk.
Tebal: 256 halaman
Harga: Rp44.000
ISBN: 978 602 208 079 4
Kategori: Lifestyle
Sinopsis:

Empat sahabat terdampar di tempat yang berbeda untuk satu alasan yang sama: Mengobati patah hati. Dendi, berjuang mengejar seseorang sampai ke Bangkok demi sepotong hati yang baru. Selama di Bali, Grahita berusaha mengikis kenangan akanseseorangyang ia beri nam Mr. Kopi. Dalam balutan abaya yang elegan,Mia berkontemplasi sepanjang gurun di Dubai. Sementara, Roy malah terjebak masa lalu saat ingin menonton kesebelasan pujaannya, Liverpool, beraksi di Kuala Lumpur
Satu per satu mereka bertutur dengan jujur tentang perjalanan cintanya yang dibungkus keseruan traveling. Cerita keempatanak manusia ini terkait saat bertemu tak sengaja, atau bercakap lewat berbagai media. Temukan akhir kisahnya, sambil menikmatipemandangan khas Ubud, hebohnya naik tuk-tuk, syahdunya kuil di Batu Cave, serta megahnya Burj Khalifa!

Tagline super galau, “Hati Patah, Kaki Melangkah” sebenarnya udah jelas menyimpulkan keseluruhan isi buku, bahwa karya ini menyajikan sekelebat cerita tentang empat anak manusia yang sedang patah hati, terpaksa mengakhiri, dan ingin berpindah hati. Kalo kata Ibu pahlawan kita yang harum namanya itu sih, “Habis broken, terbitlah move on”. Dari sampul bukunya juga udah mendeskripsikan isi buku. Eniwei, kenapa sampulnya harus berwarna pink? Apakah buku ini dibuat untuk edisi valentine? Atau pihak penerbit memang kehabisan tinta pas nge-print? Entahlah, penyebab perceraian Tamara dan Mike Lewis pun akan tetap menjadi misteri. 

Buku ini ditulis keroyokan, oleh empat orang sekaligus. Betul, empat orang, sodara-sodaraaa. Mungkin setelah debut pertama di buku ini, mereka berempat akan membentuk grup vokal, ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu dance. Siapa tahu aja sih ya.

Hampir sama dengan tulisan sebelumnya, di novel kedua ini, Andrea Hirata masih mengusung tema tentang kehidupan rakyat Belitong… Eh, tunggu dulu, sebenarnya gue lagi review buku siapa sih? Aduh, udah sampe mana tadi? *FOKUS WOY! FOKUS!*

Well, menulis keroyokan itu gak mudah, apalagi yang ditulis berupa novel utuh dengan tema dan benang merah yang sama. Tapi novel ini bisa, entah ini ide siapa, yang pasti keempat penulis ini sangat piawai dalam bertutur. Terbukti dari rhyme yang diselipkan di setiap cerita, menambah unsur kegalauan di antara kisah jalan-jalan. 

Seperti pada awal bab, dengan piawai, Dendi Riandi memainkan “reverse psychology” dan menyulap Trave(love)ing menjadi sebuah curhatan yang gak biasa, komedinya juga gak terlalu dipaksakan. Footnote-nya doang sih yang maksa. Hahaha. Asli, arti istilah ‘kepo’ yang ngasal itu sukses bikin gue seyum-senyum sendiri di pelukan Anisa CherryBelle. 

Ada lagi Grahita Primasari yang berkisah tentang liburannya di Bali, dengan tujuan mengikis kenangan masa lalunya bersama someone yang doi beri nama Mr. Krab …eh, bukan… maksud gue Mr. Kopi, yang gak lain adalah mantan kekasihnya yang sangat addicted dengan kopi, tentunya. 

Lanjut dengan Mia Haryono yang melancong jauh ribuan mil ke Dubai dengan tujuan sambilan, melupakan kesakitan yang disebabkan oleh mantan; yang inginkan status pacaran menjadi sekadar sahabatan. Masalah klasik ya, tapi gue yakin itu nyesek banget. *puk-puk Mbak Mia*

Terakhir ada penulis yang udah akrab banget di pantat kuping gue, Roy Saputra, salah satu penulis komedi *ehem* favorit gue. Di Trave(love)ing gue menemukan sosok lain dari Roy, di sini tulisan doi agak dewasa. Atau memang bawaan umur kali ya. Roy pergi ke Kuala Lumpur untuk menonton kesebelasan idolanya, Liverpool. Namun, sama seperti yang lain, doi juga masih dihantui bayangan sang mantan kekasih yang udah kebelet move on duluan.

Trave(love)ing menyuguhkan sisi lain dari traveling, kisah-kisah yang penuh balutan makna dan pesan–pesan tersirat yang secara gak langsung memberi ‘alternatif move on’ bagi pembaca. Pun mengajak pembaca ikut terlibat dalam alur cerita, dan menyimpulkan sendiri bagian mana yang sesuai dengan ‘porsi’ kita sebagai pembaca.

Di buku ini juga banyak sekali quotes yang layak untuk di-stabilo. Ada beberapa yang udah pernah gue post di akun twitter gue.
"Mungkin gue memang bodoh. Tapi, siapa sih yang pintar kalo sudah urusan cinta?" - @gelaph
"Pertengkaran ini adalah bom waktu yang akhirnya meledak setelah sekian lama dipendam." - @dendiriandi
"Orang bijak pernah bilang, patah hati akan membuat seseorang merasa sepi di tempat paling ramai sekalipun." - @saputraroy  
"Jauh-jauh gue pergi untuk melupakannya, kenapa masa lalu selalu menggoda gue untuk mengundang dia di kepala?" - @dendiriandi  
"Seperti halnya waktu, hati perlu berdamai juga dengan jarak." - @myaharyono 
"Mungkin salah satu alasan susah move on adalah terlalu nyaman dengan masa lalu." - @myaharyono  
"Seandainya bisa dikalengkan seperti makanan, maka kenangan tidak akan ada tanggal kadaluarsanya." - @myaharyono  
"Sejak kapan kita bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta?" - @gelaph       
Over all, buku ini sukses bikin gue mupeng tingkat ‘super saiya tiga’. Asli, gue jadi pengin naik Tuk-tuk di Bangkok, pengin basah-basahan di Pantai Kuta Bali, pengin ke Dubai dan manjat Burj Khalifa, dan pengin banget ke Kuala lumpur terus mengklaim Upin-Ipin sebagai warisan budaya Indonesia. *apaan sih?*

At the last, buku ini recommended banget buat kalian yang mau ngerasain (seolah) traveling sambil guling-guling di kamar! So, gue mau kasih empat bintang buat buku ini. Empat bintang dibagi empat penulis, jadi masing-masing penulis dapat satu bintang. WOW!

Oke. Mungkin segitu aja spoiler-nya. Cukup sekian dan terima ajakan jadian~ 

diperankan oleh model

Posting Komentar

0 Komentar